Header Ads

ad

Pengungsi Rohingya Masih Berdatangan


"Detik ini juga saya masih menyaksikan gelombang pengungsi di perbatasan.
Pukul 3:38 waktu bangladesh. Hanya bisa menonton dan melihat, dan tidak bisa melakukan apapun. Selain berdoa.
Bantuan yang kami berikan hanya 750 paket makanan, sementara jumlah pengungsi yang masuk hari ini lebih dari 1000 orang.
InsyaAllah kita punya orang indonesia, negara nan berpulau, pula banyak rakyatnya muslim.
Pembunuhan yang tampak bukanlah hoax, pembunuhan itu benar, boleh jadi hari ini kita tidak mendengar lagi kabar mereka di indonesia, karena tertutupi berita politik.
Tapi disini pembunuhan terus terjadi. Tak mungkin bangladesh menangani semuanya."
Muhammad Rizki Tim Indonesia Muda melaporkan langsung dari bangladesh

Militer menyerang kampung halaman mereka pada Jumat lalu. Mereka harus berjalan kaki selama beberapa hari menembus ribunnya hutan di perbatasan.
Seperti dilaporkan Al-Jazeera, Rabu (04/10), militer Myanmar mengosongkan satu desa penuh yang dihuni Muslim Rohingya di provinsi Arakan. Hal itu bertujuan mengeluarkan sisa-sisa warga Muslim yang tinggal di negara yang sebelumnya bernama Burma.
Menurut saksi mata, warga yang mayoritas anak-anak dan wanita itu dipaksa menempuh perjalanan jauh tanpa kendaraan menuju perbatasan Bangladesh. Selama perjalanan mereka dalam keadaan kemanusiaan yang sangat sulit.
Jumlah mereka sekitar 10.000 orang. Saat ini sudah berkumpul di salah satu titik di dekat pintu perlintasan ke Bangladesh untuk bergabung dengan ratusan ribu pengungsi Rohingya di kamp-kamp di pinggiran negara tetangga itu.
Salah satu dari mereka, Rachida Bhagum (30), menceritakan sedikit perjuangannya bersama keluarganya, termasuk putri kecilnya, dan ribuan Muslim Rohingya lainnya. Setelah jalan kaki yang sangat jauh ke perbatasan Bangladesh, para pengungsi berkumpul di pinggiran Sungai. Kemudian kami menyeberangi Sungai Naf, yang memisahkan Myanmar dari Bangladesh.
Bhagum menuturkan, kampanye militer terbaru ini terjadi di saat pemerintah Myanmar mengatakan bahwa warga Rohingya akan aman jika mereka tetap berada di desa-desa mereka. “Tentara mendatangi setiap rumah dan memerintahkan kami untuk pergi,” katanya kepada AFP. “Mereka bilang mereka tidak akan menyerang kita, tapi akhirnya mereka mengusir kita dan membakar rumah kita,” imbuhnya.
Pengungsi lainnya yang merupakan wanita muda, Sumaya Bibi, menggambarkan bagaimana lebih dari 1.000 warga sipil bersembunyi di tepi sungai Senin malam untuk menghindari pantauan militer Bangladesh.
Bibi menjelaskan bahwa mereka telah tiba di Bangladesh menggunakan sepuluh kapal kayu untuk melintasi Sungai Naf ke pantai terpencil di Bangladesh.
(Dikutip dari kiblat.net)

No comments