Header Ads

ad

Evaluasi Terkini Aktivitas Gunung Agung





Dilansir BNPB "Jumlah pengungsi Gunung Agung 146.797 jiwa di 427 titik. Ada penambahan karena sebelumnya ada belum terdata oleh posko"


Kondisi Gunung Agung saat ini masih kritis dan telah menyandang status Awas (Level IV). Intensitas kegempaan pun dinilai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih tergolong tinggi.

Berikut rilis resmi hasil evaluasi aktivitas Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali yang diterima Tribun Bali dari Kepala PVMBG, Kasbani, Kamis (5/10/2017):
Data Pengamatan

1. Seismik
Jumlah kegempaan vulkanik dalam 12 hari terakhir tidak mengalami percepatan namun terus berfluktuasi di jumlah yang tinggi.
Dalam satu menit masih terekam 1-3 kali gempa dan jumlah gempa vulkanik per hari selalu lebih dari 600 kejadian.

2. Kegempaan vulkanik dangkal pada periode 24 September - 5 Oktober 2017 jumlahnya lebih tinggi (umumnya lebih dari 200 gempa per hari) jika dibandingkan dengan periode sebelumnya (umumnya kurang dari 200 gempa per hari).
Hal ini dapat mengindikasikan bahwa hingga hari ini aktivitas magmatik di kedalaman dangkal masih tinggi.

3. Magnitudo gempa terbesar dalam periode krisis ini adalah M 4.3 terjadi pada 27 September 2017 pukul 13:12 WITA, gempa ini dirasakan dengan intensitas MMI III-IV di sekitar Gunung Agung.
Setelah itu, gempa-gempa yang terekam maupun terasa secara umum magnitudonya berada di kisaran M2.0-M3.0.
Gempa-gempa yang dirasakan di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang (12.5 km di sebelah Selatan-Baratdaya) mencatatkan jumlah terbanyaknya pada tanggal 27 September 2017 yaitu sebanyak 14 kali.
Setelah itu, jumlah gempa yang dirasakan di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang relatif menurun.

4. Lokasi pusat gempa berada di bawah kawah Gunung Agung tersebar hingga kedalaman sekitar 20 km di bawah puncak.

5. Amplitudo Seismik (RSAM) dalam 12 hari terakhir tidak mengalami percepatan namun masih tertahan dinilai yang tinggi.


6. Konten frekuensi dominan gempa masih didominasi oleh gempa-gempa dengan frekuensi tinggi yang mengindikasikan bahwa hingga saat ini aktivitas peretakkan batuan di bawah tubuh Gunung Agung akibat pergerakan magma masih terus berlangsung.
7. Pola cepat rambat gelombang seismik hingga hari ini masih mengindikasikan adanya peningkatan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung akibat penambahan volume fluida magmatik dari waktu ke waktu yang bergerak menuju ke permukaan.

Pemantauan Visual
Asap kawah teramati dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang (sektor Selatan) maupun di Batulompeh (sektor Utara) berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal mencapai ketinggian 50-200 m di atas puncak.
Penginderaan Jauh Satelit

1. Area panas di permukaan dalam kawah dari pantauan satelit teramati mengalami perluasan selama krisis terjadi di Gunung Agung.
Area panas ini berada di permukaan kawah sebelah timur laut maupun di tengah kawah.

2. Air keluar ke permukaan kawah melalui lapangan solfatara yang berada di bagian timur laut teramati dari pantauan satelit.
Keluarnya air ini dapat mengindikasikan adanya gangguan hidrologis di bawah Gunung Agung akibat peningkatan aktivitas magmatik saat ini.

Deformasi

Pengukuran dengan Tiltmeter sempat mengindikasikan pola deflasi/pengempisan Gunung Agung secara tiba-tiba pada tanggal 1 Oktober 2017 namun kemudian polanya berubah kembali ke inflasi/penggembungan pada hari berikutnya hingga saat ini.
Geokimia

1. Hasil pengukuran gas Gunung Agung dengan metode Differential optical absorption spectroscopy (DOAS) pada jarak 12 km dari puncak tidak mendeteksi adanya kadar SO2 yang tinggi.
Namun hal ini tidak dapat diinterpretasikan sebagai rendahnya aktivitas magmatik.
Konsentrasi SO2 kemungkinan berada di bawah batas kemampuan peralatan untuk mendeteksi pada jarak sejauh ini atau kemungkinan tidak terdeteksi karena SO2 berinteraksi dan terlarut dalam air.

2. Asap putih yang keluar dari kawah Gunung Agung sangat berpotensi disertai dengan keluarnya gas-gas magmatik (CO2, SO2, dll).
Jika konsentrasinya tinggi, gas-gas ini dapat tercium menyengat (bau belerang) dan dapat membahayakan keselamatan bagi yang menghirupnya.
Namun demikian, paparan gas saat ini kemungkinan hanya berada di sekitar kawah.
Gas-gas ini akan dengan mudah tertiup dan tercacah oleh angin sehingga konsentrasinya akan menjadi lebih rendah atau bahkan nihil pada jarak yang jauh.

3. Hasil pengukuran gas Gunung Batur dengan metode MultiGas mengindikasikan belum adanya indikasi suplai magma baru ke Gunung Batur. Hingga hari ini belum teramati indikasi terpengaruhnya aktivitas vulkanik Gunung Batur akibat peningkatan aktivitas Gunung Agung.

Analisis

1. Evaluasi data pemantauan hingga saat ini mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi sehingga probabilitas untuk terjadi letusan masih lebih tinggi daripada probabilitas untuk tidak terjadi letusan.
Namun demikian, probabilitas letusan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada data pemantauan terkini.

2. Jika terjadi letusan, kemungkinan besar akan diawali dengan letusan kecil namun juga memungkinkan untuk diikuti oleh letusan yang lebih besar. Besarnya letusan tidak bisa ditentukan dengan pasti.

3. Tanggal dan waktu pasti letusan tidak dapat diprediksi. Namun demikian, PVMBG akan mengeluarkan peringatan sedini mungkin jika kondisi aktivitas Gunung Agung berubah dan/atau jika teramati kecenderungan yang lebih tinggi untuk terjadi letusan.

4. Masyarakat maupun wisatawan yang berada di luar Zona Bahaya dapat melakukan aktivitas seperti biasa (Zona Bahaya saat ini yaitu di dalam radius 9 km dari Puncak dan perluasan sejauh 12 km dari Puncak Gunung Agung ke arah sektor Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya).

5. Masih aman untuk berwisata di Bali. Namun, masyarakat maupun wisatawan agar tidak memasuki Zona Bahaya. PVMBG terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun Pemerintah Daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini letusan.

6. Wisatawan yang berada di Bali maupun masyarakat setempat agar tetap mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. Informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Agung dapat diperoleh melalui aplikasi web maupun telepon pintar yang dikeluarkan resmi oleh PVMBG yaitu MAGMA Indonesia (magma.vsi.esdm.go.id) dan melalui Google Playstore.

Koordinasi Kesiapsiagaan
Dalam periode 29 September - 5 Oktober 2017, Tim PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM telah melaksanakan kegiatan Koordinasi dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman bencana letusan Gunung Agung, di antaranya:
Rapat koordinasi (Rakor) dengan Gubernur dan Kepala BNPB perihal pemulangan pengungsi yang berasal dari luar Zona Bahaya pada status Level IV (Awas).
Menyampaikan informasi perkembangan aktivitas Gunung Agung pada Rakor harian di Posko Utama Tanah Ampo.
Rakor dengan BMKG terkait data meteorologi yang diperlukan dalam pemodelan produk erupsi.
Sosialisasi aktivitas Gunung Agung kepada komunitas pengusaha perhotelan dan pariwisata di Kabupaten Badung. Rakor penyusunan Rencana Kontinjensi potensi bahaya lahar dan sebaran abu.Rakor penentuan jalur evakuasi bersama para pemangku kepentingan (stakeholders) di bawah koordinasi BNPB. Memberikan pelayanan informasi perkembangan aktivitas Gunung Agung dan potensi bahayanya kepada media cetak maupun elektronik, dalam dan luar negeri.
Peninjauan dari udara maupun di darat untuk melakukan verifikasi area yang berpotensi terlanda bahaya. Sosialisasi peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung kepada para Kepala Desa yang wilayahnya termasuk ke dalam Kawasan Rawan Bencana.(*)
[Tribunbali]



No comments